Rabu, 14 Desember 2011

kesalahan dalam mc


TRAINING SCM DAN TASKIF RABBANI
Kisah ini bermula ketika aku mengikuti training pekerja lepas atau free lance di sebuah perusahaan busana muslim terkemuka di Indonesia, terutama di kota Bandung yaitu CV Rabbani. Saat itu adalah bulan Juli ketika masanya aku libur akhir semester ganjil kuliah. Sebelumnya aku sudah mendaftarkan diri untuk mengikuti (SP) kalau di kampus lebih di kenal semester pengulangan,yaa..karena nilai semester sebelumnya ada yang harus kuperbaiki. Namun karena target awal dalam liburan semester kali ini aku ingin mencari pengalaman bekerja di Rabbani sebagai free lance SCM(Sales Consultan Muslimah),maka aku beranikan diri untuk mengikutinya.yaa..lumayan selama liburan mencari pengalaman dan terutama mencari penghasilan.hehehe... m_m
Ternyata memang benar apa yang di katakan teman sekelas yang sebelumnya pernah dan berpengalaman tahun lalu menjadi free lance di Rabbani. Proses pelatihan yang harus kita lewati sebelum menjadi SCM begitu ketat. Suatu ketika kami mendapat pelatihan bagaimana menjadi MC yang bagus dalam acara formal maupun non formal. Semua peserta calon free lance di tuntut untuk membawakan sebuah acara baik formal atau pun non formal dengan menjadi MC. Saat itu aku memilih untuk menjadi mc acara Ramadhan Fair. Yaa..dengan santai aku mebawakannya seperti mc yang non formal. Hanya saja entah mengapa di akhir pelatihan, semua peserta di suruh untuk memilih peserta yang menjadi MC terbaik yang di bawakan selama penampilan tadi. Dan aku tidak menyangka mendapatkan polling no 1. Padahal aku merasa tadi itu berantakan,riweuh dan tidak beraturan sama sekali, yaa..aku alhamdulillahi saja dan menjadi nilai plus bagi kemampuanku.


Namun tak di sangka pula sang pelatih training calon free lance ini, memberikan tugas bagi yang mendapat reward terbaik, yaitu membawakan acara pengajian rutin taskif di Rabbani menjadi mc. Taskif  Rabbani ini rutin dijalankan seminggu sekali tepatnya hari kamis, dan rata-rata jamaah yang datang adalah ibu-ibu sekitar Rabbani dipatiukur,jemaah ustad pengisi materi, dan para staf,scm,cs, dan OB Rabbani. Wal hasil dari situ aku langsung tegang tingkat tinggi, karena takut gagal dalam mebawakan acara yang bisa dibilang semi formal ini. Sang pelatih bilang kalau saya harus membawakan acaranya ramai seperti ketika di pertunjukan training tadi. Dari situ otak saya muter-muter kebingungan, yang pertama ini adalah acara semi formal, rata-rata ibu-ibu dominan jamaahnya. Dan yang paling membingungkan lagi saya tak di beri tor untuk acaranya.
Sebelumnya saya juga aktif mengikuti acara taskif ini, ga sering juga sih...kadang dateng sekalian numpang ta’jil geratisan hehe. Tapi baru kali ini saya di suruh nge mc acaranya langsung. Biasanya selalu ada sms dari pihak Rabbani, bahwa yang akan mengisi materi taskif hari ini adalah ust. Abu Rabbani. Jadi saya sudah tahu dari sms yang di terima bahwa ustadznya adalah Abu Rabbani. Saat itu pula aku tanyakan langsung untuk mengecek kebenaran bahwa ustadznya adalah Abu Rabbani yang terkenal enak kalau mengisi materi. “pak pematerinya ust. Abu Rabbani yah?” tanya saya yang masih kebingungan, sang pelatih training pun menjawab “iya betul, antum kok udah tahu?”. “kan saya dapat smsnya pak, saya juga dulu sering ikutan taskif.” Jawab saya. Akhirnya dengan mantap aku tulis di pointer mc bahwa pematerinya ust.Abu Rabbani. Dan kembali aku tanyakan tema materinya, dan susunan acaranya.
Akhirnya setengah jemaah sudah berkumpul dan siap mengikuti acara ini, yang bikin bingung saya lagi adalah posisi duduk saya, karena akhwat dan ikhwan di pisah saya memilih duduk di depan akhwat, setelah itu saya menyuruh yang tilawah untuk bersiap-siap begitu pun yang kebagian membaca hadits. Sang pelatih menyuruh acara di buka.dan sekali lagi...maaf, karena saya dan teman-teman yang kebagian ngisi acara kebingungan. Buku hadits tidak di siapkan, dan ketika acara sudah saya buka ustadnya belum datang alias masih di jalan. Walhasil dari teman-teman insiatif untuk bershalawatan, hanya saja para jemaah tidak terbiasa ada pun yang terbiasa. Saya coba mengalihkan jemaah untuk berasmaul husna hingga akhirnya ustadnya beberapa menit kemudian datang.

Ketika saya ucapkan salam dan sambutan kepada para jamaah dan ustadz pengisi materi....ohhh no..!! kesalahan total yang mebuat saya malu dan bertambah gugup yaitu salah menyapa atau menyebutkan nama ustadz. “selamat datang kepada ust.Abu Rabbani...” dan seketika ibu-ibu nyeletuk “neng salah itu mah, lain ustadz Abu..” OMG...rasanya seperti di sambar petir, di lempari tomat busuk ke wajah aku ini, maluuuu banget, dan akupun berbisik pada sang pelatih dari jarak ke jauhan” Pak ini siapa pematerinya?” sang pelatihpun kebingungan dan keluar untuk menanyakanya. “ust asep neng..” ibu-ibu kembali nyeletuk, dan saya memastikannya kembali, “ibu bener ini ust.asep..??” “iya neng...” jawab si ibu, akhirnya aku meralat sapaan itu kepada pemateri namun...ohhhh....Ya Allah....salah lagi, muka beneran kaya udang rebus maluuu banget. Tapi dari sana ternyata sang ustad tidak menyelaah, bahkan ketika akan mengisi acara dan memperkenalkan diri kembali, sambil ter senyum dia berkata “sudah dua kali nama saya di sebut salah...” kata ustad, seraya saya langsung menimpali “maaf stad karena miss communication”, sambil tersenyum sang ustad memberitahukan namanya adalah wahyu, dan sudah memaafkan dari awal, karena mungkin memang dari pihak Rabbani tidak memberitahukan pergantian ustad yang mendadak, karena ustad Abu sedang di luar kota sehingga ustad Wahyu lah yang di minta menggantikannya.
Dari sana aku duduk lesu mengikuti acara hingga akhir, serasa malu sekali, untungnya ustadnya baik hati dan murah senyum mau aja namanya di panggil gonta ganti salah. Yaa...kerja saya kacau saat itu karena tidak ada kesiapan dan miss communication yang di buat, seharusnya panitia memberitahukan kepada pak Pelatih training kita, bahwa pematerinya di ganti, laahhh aku malah percaya ama omongan ibu-ibu sehingga salah menyebutkan untuk kedua kalinya. Tapi selamat dahh...kalau salah yang ketiga kalinya, berhadiah piring kali yahh...hahaha...
Ketika acara selesai saya menutupnya dengan lancar, walaupun semua mata tertuju kaku kepada saya,seolah tak ingin salah kembali yang akan dilakukan. Namun Alhamdulillah lancar dan saya langsung menghampiri sang pelatih, khawatir beliau kecewa karena kerja saya yang sudah di amanati akan membawakan acara yang asik, fun, tdk terlalu formal, malahhhh melebihi batas tidak formal bangettt dengan kesalahan yang ada. “pak, tadi saya salah menyebutkan nama ustadnya maaf,saya kira itu ustad Abu, karena tadi saya sudah meyakinkanya pada bapak kalau pematerinya benar seperti yang di sms kan.” Bela saya kepada pelatih. Sang pelatih pun menjawab dengan cueknya sambil mengotak ngatik laptopnya “yaa...ana kira antum sudah tahu ustad Abu yang mana, ternyata antum belum tahu..?” “belum pak, kalaupun tahu saya tidak akan menyapanya karena tahu itu bukan ust.Abu.” “ya sudahlah tidak apa-apa, kamu sudah bagus kok mebawakannya, makasih yah..” ucap sang pelatih seolah ingin menyenangi hati saya. Yaa...dari kesalahan itu banyak sekali yang aku pelajari dia antaranya:
1.      Kesiapan untuk menjadi mc itu penting
2.      Jangan sampai kita tidak meguasai susunan acara dan tidak tahu menahu siapa pemateri yang akan mengisi acara tersebut
3.      Kesiapan mental kalau ada kesalahan yang terjadi
4.      Posisi kita duduk atau berdiri ketika meng mc di acara seperti itu
5.      Ketahui itu acara formal atau non formal
6.      Pelajari sifat-sifat peserta acara tersebut misalnya dominan ibu-ibu, ya,,bawain acaranya jangan kaya ke anak-anak
7.      Tahu letak posisi di mana kita harus duduk setelah meng mc, jangan malah ikut berbaur dengan peserta, kecuali kalau tempatnya sempit hehe,,
8.      Dan ini yang lebih penting dalam mc atau keprotokoleran, yaitu chek and richek sebelum acara mulai, dari tata tempat duduk pemateri,mc,tilawah,pembaca hadits, lalu para jamaahnya. Dan yang lebih utama adalah selalu check apakah benar pengisi materinya orang tersebut, jangan sampai salah ucap seperti kisah saya tadi.
Dan apalah benar seperti yang di katakan Pak Fuad dalam kelas “if you do the right no one remember but if you do the wrong thing no one forgotter.” Kesalahan yang saya buat ternyata masih saya ingat hingga saat ini, tapi entahlah untuk orang lain yang mengikuti acara yang sama, masih ingat atau tidak kalau mc nya saat itu tidak becus,hahaha...(atau saya aja yang ke GR an yahh.. -___-)
Yang jelas ilmu mc dan keprotokoleran itu penting, tapi selain belajar teorinya dalam kelas, sekali lagi yang saya rasakan adalah harus seringnya juga action dan keyakinan bisa. Karena kalau belajar no action sama aja bohonh, misal belajar 3 kali dan actionya sekali jadi yahh kemungkinan bisanya 3 belajar x 2 action = 6 kali bisanya hehe...bener kan
Hanya itu cerita pengalaman buruk yang pernah saya rasakan baru baru ini, semoga jadi pengalaman baru yang tak terlupakan untuk menjadi pembelajaran selanjutnya agar lebih baik, semoga. Terimakasih. (MiLah)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar